Permadi, Shandy Owen (2019) Studi Tingkat Pencahayaan Terhadap Puncak Produksi Ayam Petelur Fase Layer Di Mahakarya Farm Banyuwangi. Diploma thesis, Politeknik Negeri Jember.
|
Text (Ringkasan)
7. RINGKASAN.pdf - Submitted Version Available under License Creative Commons Attribution Share Alike. Download (151kB) |
|
|
Text (Bab 1 Pendahuluan)
13. BAB 1. PENDAHULUAN.pdf - Submitted Version Available under License Creative Commons Attribution Share Alike. Download (153kB) |
|
|
Text (Daftar Pustaka)
18. DAFTAR PUSTAKA.pdf - Submitted Version Available under License Creative Commons Attribution Share Alike. Download (161kB) |
|
|
Text (Laporan Lengkap)
20. C31161990_SHANDY OWEN PERMADI_LAPORAN LENGKAP.pdf Restricted to Registered users only Download (222kB) |
Abstract
Puncak produksi ayam petelur merupakan masa dimana produksi telur dari ayam sangat tinggi. Puncak produksi biasa dicapai pada umur 26 minggu – 29 minggu. Tercapainya puncak produksi lebih awal dan dapat bertahan lama menjadi tolak ukur keberhasilan suatu usaha peternakan. Salah satu faktor tercapainya puncak produksi adalah keseragaman. Agar keseragaman dewasa kelamin tercapai ada tindakan yang harus dilakukan salah satunya adalah pengaturan program pencahayaan. Program pencahayaan merupakan salah satu hal yang mempengaruhi tercapainya pucak produksi karena berhubungan dengan keseragaman dewasa kelamin. Adanya pencahayaan (matahari) maupun lampu dapat menstimulsi hipotalamus dan akan di terukan ke kelenjar hipofisa. Kelenjar hipofisa akan mensekresikan 2 hormon yaitu hormon FSH dan LH. Hormon FSH berfungsi untuk mematangkan folikel telur sedangkan hormon LH berfungsi untuk menggertak proses ovulasi(proses pelepasan sel telur dari ovarium). Karya tulis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan program pencahayaan terhadap tercapainya puncak produksi ayam petelur di UD. Mahakarya Farm Banyuwangi Hasil dari data produksi telur, berat telur dan FER selama 14 minggu mulai dari minggu ke 25 sampai dengan minggu ke 38 mendapatkan produksi telur lebih baik pada intensitas yang lebih tinggi , untuk berat telur mendapatkan hasil yang relatif sama dan terakhir untuk FER intensitas lebih besar menghasilkan hasil yang lebih baik. Maka dapat disimpulkan penggunaan intensitas 15 lux mendapatkan hasil puncak produksi tercapai lebih cepat.
| Item Type: | Thesis (Diploma) | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||
| Subjects: | 200 - Rumpun Ilmu Hewani > 210 - Ilmu Peternakan > 216 - Produksi Ternak | ||||||
| Divisions: | Jurusan Peternakan > Prodi D3 Produksi Ternak > Tugas Akhir | ||||||
| Depositing User: | Sri Supriyatiningsih | ||||||
| Date Deposited: | 05 Jan 2026 06:00 | ||||||
| Last Modified: | 05 Jan 2026 06:01 | ||||||
| URI: | https://sipora.polije.ac.id/id/eprint/49552 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
